Resensi Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


Photo From Google.com

Bbrrrr... dingin, ngilu, banjir.. oh banjir lagi sayang.
Daripada melamun menyaksikan banjir tak kunjung surut. Yah wis iseng nulis blog aja lah..^^
Belajar nulis resensi lagi aahh, tapi kali ini film besar yang lagi jadi idaman para pecinta film di Nusantara "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" adopsi dari novel dengan judul yang sama karya Buya Hamka.

Film ini konon kabarnya film terlaris sepanjang tahun 2013 dan berhasil di tonton oleh 660.000 dihari pertama ditayangkan. Aku seh telat nontonnya, bukan!. Bukan karena males nonton film negeri sendiri tapi jadwal nontonnya belum karena aku lebih memilih "Edensor". Kenapa?, karena penasaran sudah menonton film-film sebelumnya. Eh.. kok jadi ngomongin film lain. Balik lagi ke asal..
Minggu ketiga setelah tayang baru deh nonton film ini. Film termahal dan persiapan terlama hampir 5 tahun pembuatannya. Siapa yang enggak pengen nonton.

Aku selalu bilang sama diri sendiri. Jadilah bagian dari kehidupan saat kau hidup didalamnya. Enggak paham kan?, hahahaaa..
Gini maksudnya, kalau ada film bagus, laris, jadi bahan omongan masak iyah enggak pengen nonton itu film.

Akhirnya duduklah manis di dalam bioskop @MallKelapaGading. Telat dikit karena macet.. huft!!!.
Zainudin lagi narasi..
Wah, belum ketinggalam amat seh.
Satu menit menikmati, dua menit.. tiga menit... daaaaannnn...
Merinding...
Aku emang "MovieFreak". Jadi kalau nonton jangan harap kayak yang lainnya bisa sambil nyemil atau bolak balik ke toilet. #EnggakDeh.

Fokus... menatap layar lebar.
Buya Hamka seakan hidup didalam film itu. Aku ternganga.. takjub. Ada Ruh didepanku, seakan semuanya hidup dan setiap kata serta gerakan pemain utama seakan aku berada diantara mereka.
Buya... oh Buya... Filsafat hidup dan kalimat yang terucap pada setiap pemain ngjleb banged.
Aku tak berkedip, meresapi setiap detail adegan. Zainudin.. itukah Engkau, Buya. Betapa setiap gerakan tubuh dan tutur Zainudin seakan memiliki Ruh.
Salud dan bangga Nusantara memiliki film bagus ini. Terima kasih Bang Imam Tantowi yang katanya menulis skenarionya, terima kasih Bang Sunil sudah membuat film bagus ini, terima kasih Junot dengan totalitas menjadi pribadi Zainudin, 100% BAGUS!.

Tapi... sayangnya.
Seandainya saja Pevita bisa lebih berperan sebagai Hayati akan jauh lebih sempurna pastinya.
Aku kesal ketika melihat adegan Zainudin dan Hayati ketika berpisah ditepi danau. Junot dengan aktingnya yang ciamik dan sesaat membuat diriku terasa sesak melihatnya, berubah... Pevita enggak maksimal. Aaahhh.. mungkin itu analisaku aja.
Dan ternyata iyah.. ada lagi adegan bagus.. tapi Hayati a.k.a Pevita tak mendukungnya dengan baik dan terkesan datar. Adegan Zainudin murka ketika Hayati mengatakan ingin kembali padanya setelah kematian Aziz suami Hayati.

Gregetan ngeliatnya.. Junot.. oooohhh.. keren banged aktingnya tapi Hayaaaaatttiiiii... tetap sama gak ada ruh disana. Wajahmu datar Pevita. Sudahlah.. mungkin itu hanya pengamatanku aja.
Atau bisa jadi sang sutradara enggak mau *ngebreak* karena Junot improvenya keren dan kalau di ulang pasti bakal susah dapat mod-nya. Jadi, dibiarkanlah Pevita seperti itu. *Hahahaaaaa... itu menurutku.

Eh.. Bang Sunil, kenapa musik tahun 30-an kok kesannya DJ yah. (Adegan pesta di rumah Zainudin). Lagi-lagi menurutku...^^
Satu lagi Bang.. Rumput ketika Festival Pacuan Kuda kenapa masih baru di tanam. Aaaahhh Bang coba di injak-injak dulu jadi kesannya emang alami. *Ini nonton sampe detail Yak* Heheheee..

Over All.. suka sama semua settingan dan pengambilan gambar serta akting para pemainnya. Meski agak aneh tenggelam kapalnya. Setidaknya kalian telah berusaha.
Jadi keliatan kan.. yang bener-bener niat bikin film.

Endingnya, aku suka. Walau di novel aslinya Zainudin mati karena sakit memikirkan kematian Hayati dan merasa bersalah. Di sini Zainudin dibuat tegar dan memotivasi kita semua, bahwa hidup harus terus berjalan dan kita enggak boleh terlalu lama berputus asa. HALAH!! KEREN KAN.
Novel jadul khan emang gitu, tokoh utama mati semua. Tengok aja novel- novel angkatannya. (Lihat sendiri yah. Ntar kelamaan..
***
Aziz memilih bunuh diri demi menjaga kehormatan dirinya ketimbang ia harus mengakui kemiskinan yang ia tanggung dan pulang ke kampungnya dengan wajah tertunduk.
Tenggelamnya kapal Van Der Wicjk merupakan jalan menghantarkan Hayati pada kematian. Dengan kematian maka Hayati tidak akan merasa bersalah seumur hidupnya kepada Zainudin dan ia tak akan menanggung malu karena ulahnya lebih memilih pria kaya raya daripada cinta sejatinya karena takut miskin yang pada akhirnya dunia berbalik padanya.

Dan akhirnya kita bisa mengambil hikmah setelah nonton film ini.

1. Tak ada yang bisa merubah takdir Tuhan.
2. Kita bisa berencana Tuhan jua yang menentukan.
3. Kesombonganlah yang akan membunuh dirimu sendiri.
4. Kerja keras dan istiqomah pintu meraih kesuksesan.

Thanks..

*Jadilah Sejarah Dalam Hidupmu Sendiri.
*Yuuuukkk Menulis..^^


Salam,
~ratna_fa

Comments

Post Populer

Review Novel Yang Tercinta

Review Novel Pudar

[Book Review] Patah Hati di Tanah Suci