Sepotong Hati

Seperti kemarin, yah masih seperti kemarin tak ada yang berubah. Alea memerjapkan mata, menguap.
"Selamat pagi.." sapanya lembut. Mengibaskan rambut panjangnya, tersenyum manis.

"Kau sudah terbangun Alea?" tanya laki-laki disamping Alea, masih berselimut putih meringkuk bak anak kuncing memeluk guling dengan wajah sayu, berusaha membuka mata namun tetap saja masih terpejam.

"Selamat pagi.." sapa Alea mengulang kalimatnya.

"Pagi sayang." Jawab pria melanjutkan mimpinya.

Alea tersenyum, membenarkan pakaian tidurnya yang setengah terangkat. Jari-jari Alea dengan cekatan mengikat rambutnya yang terurai dengan tali rambut. Bangkit berjalan menuju cermin.

"Selamat pagi Alea.." Alea tersenyum genit, terpaku menatap wajahnya nan cantik. Tangan Alea mengelus wajahnya sendiri. Alisnya terangkat, dengan congkak ia berkata. "Aku memang cantik."

Tak ada yang berubah, hari-harinya selalu sama seperti kemarin. Bangun pagi, membersihkan badan, sarapan, pergi ke kantor, seharian sibuk dengan bejibun pekerjaan. Malam kembali ke rumah.
Tak berubah.

"Alea.. kau cantik camkan itu." Alea menunjuk dirinya sendiri di depan cermin, meringis.

                                 ***

"Selamat malam, kau telah kembali sayang." Sapa Alea dengan manja.

"Hmmm.." jawab pria itu dengan malas tak berekpresi.

"Ada apa denganmu, apa kau lelah?. Kubuatkan makanan kesukaanmu. Ini lihatlah." Alea sibuk mengambil piring, menyendok nasi dari dalam Magicom dan meletakkanya di hadapan pria itu.

"Cukupkan, kau tak boleh berlebihan makan nasi. Diabetmu.. yah aku takut kau sakit lagi." Alea menarik piring berisi dua potong ikan goreng dan sayur asam kesukaan mereka berdua.

"Honey, wajahmu pucat. Kau sakit?" Alea menyentuh wajah pria itu, dingin.

"Kau kenapa Honey?" Dengan cepat Alea meletakkan piringnya dan berlari kedalam kamar tidur. Kembali dengan wajah panik.

"Sudah kubilang, kau tak perlu keras bekerja hingga larut malam. Ini.." Alea menyodorkan sebuah botol kecil seukuran botol betadine. Pria itu menggeleng dengan lembut.

"Aku lelah, aku lelah sayang." Jawab pria itu bak patung tak bergeming.

Alea memeluk pria itu dengan erat, dingin. Kini ia menangis, tak tertahan jantungnya berdegub dengan kencang.

"Aku hanya ingin kau selalu bersamaku. Itu saja." Gumam Alea lirih.
                              ***

Masih sama seperti kemarin, tak ada yang berubah.
Gundukan tanah basah masih tersisa. Seikat bunga melati tergeletak diatasnya. Sunyi... hujan menyisakan jejak kenangan tentang hari lalu.

"Aku hanya ingin kau tetap bersamaku."

Yuda Aryana
Bin Ari Suprana
21.12.2001
Dalam kenangan.

Biarkan hujan menyembuhkan lukamu.

The end......

Tidak ada komentar

Berkomentarlah dengan kalimat yang baik dan sopan.