Stupid Liar




Senin, pukul dua pagi.

Saat hujan gerimis, suaranya nyaris terdengar sangat merdu ditelinga, membuat tubuhku sedikit menggeliat diterpa angin yang masuk melalui jendela kamar. Mawar tidak suka kalau jendela ditutup saat kami tidur malam hari, jadi.. setiap hari jendela kamarku dibiarkan terbuka.

Sudut mataku masih lembab sisa menangis sore tadi, tangan kananku berusaha meraih selimut yang merosot di antara kedua kakiku, dengan cepat selimut itu menutupi hampir seluruh tubuhku, menggigil, reflek aku meringkuk, merasa nyaman dibalik selimut.

Lalu aku teringat sesuatu, punggungku terasa ringan tidak seperti biasanya. Dengan malas aku berusaha membuka kedua mataku, remang-remang sorotan cahaya lampu dari luar jendela yang menerobos kamar sedikit mengganggu penglihatanku. Saat tubuhku bergerak ke kanan, aku segera bangkit, mengusap kedua mataku, jantungku terasa berhenti, bersamaan saat ku lihat Mawar tergeletak di sisi tempat tidurku, hidungku mencium bau anyir, manis, dan terasa menyegarkan.

Mawar tak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah.

Malam itu.. awal hidupku di mulai.

***

"Mawar." dia menyebut namanya sambil tersenyum lebar, hampir seluruh gigi depannya terlihat semua. Lama dia menungguku menyodorkan tangan untuk membalas jabatan tangannya. Alih-alih menerimanya, aku justru meninggalkan dia sendirian.

"Luna.."

Ibuku dengan cepat menarik tangan kananku, lalu ikut tersenyum.

"Jangan begitu, mulai saat ini kalian jadi saudara. Hmmm." ibuku mengangguk, meyakinkan aku untuk menerima sosok gadis berwajah pucat, mata bulat, rambut di kuncir kuda tanpa poni yang kini berdiri di hadapanku.

 Dia seorang gadis yatim piatu yang di ambil ibuku dari panti asuhan, sebelumnya ibu bercerita kalau sahabatnya menitipkan seorang anak kepadanya sebelum mereka bunuh diri.

Seminggu yang lalu mereka sempat bertemu, entah apa yang mereka perbincangkan, terlihat serius. Aku hanya menunggu dari tempat duduk yang berjauhan.

Setelah pertemuan itu. seseorang datang ke rumah memberitahu ibuku dengan membawa sepucuk surat yang kabarnya dari orang tua Mawar. Mayat mereka ditemukan gantung diri di dalam kamar saat Mawar dibius.

Orang tua yang gila, pastinya anaknya juga gila.
Aku menyeringai pada akhirnya tanpa perlu mengulurkan tanganku padanya, tapi dia justru sebaliknya tersenyum bahagia.
Saat itu usiaku baru lima tahun.

Itulah awal aku bertemu dengan Mawar.

***

Kalau banyak yang bilang seorang anak dengan trauma kedua orang tuanya bunuh diri akan menjadi anak yang memiliki kepribadian berbeda, tidak dengan Mawar. Ibuku sukses membuatnya menjadi gadis yang manis, pintar, cantik dan disukai banyak orang.

 Lalu aku..

Tenggelam dalam kehidupanku sendiri.

Aku tidak pernah cemburu atas kedekatan Mawar dan ibuku, bagiku selama mereka tidak pernah mengusik hidupku, semua akan baik-baik saja.

Aku membenci Mawar?

Entahlah.

Yang pasti, setidaknya ibuku punya satu mainan yang bisa dia manfaatkan dan satu hal ibuku menjadi seorang ibu yang sempurna di mata semua teman-temannya. Hidupnya sempurna, dengan adanya Mawar.

Kalian pasti bertanya-tanya, ke mana sosok ayahku.

Ah!
Aku lupa, ibu selalu menceritakan padaku tentang sosok ayah yang katanya sangat baik, tampan dan pintar. Dia.. menghilang saat aku dilahirkan. Bahkan jejaknya tidak pernah bisa diendus anjing pelacak terhebat sekalipun di kota kecil ini.

Siapa yang peduli dengan ayahku.
Bagiku.. tanpanya aku tetap bisa menjalani hidup dengan ibuku yang hebat.

Saat aku menulis kisah ini, aku sudah duduk di bangku sekolah menengah kelas sebelas.
Mawar sebentar lagi lulus sekolah dan dia tepat seperti perkiraanku, dia berkeinginan melanjutkan ke perguruan tinggi jurusan kesenian, bukankah itu keinginan ibuku.
Bodoh bukan.
Apa enaknya jadi boneka ibuku.

***

Aku kesal sebenarnya sejak masuk ke rumah ini, sorot mata gadis itu sering kali membuatku sesak dan bahkan ingin sekali aku mencongkelnya, tatapannya membuatku risih dan dia meremehkan aku.

Luna..
Dia adikku, usianya satu tahun dibawahku.
Sesekali dia berkomentar tapi selalu menyakitkan tapi kata ibu, jangan diambil hati, dia hanya tidak biasa berinteraksi dengan orang lain maka kosa katanya tidak terlalu bagus.

Setiap kali ibu berkata seperti itu pada akhirnya aku tersenyum, berusaha menerima keadaannya.

Luna memang berbeda, dia penyendiri.
Bahkan ibu tidak pernah bisa mendekatinya.

Sudah lebih dari sepuluh tahun aku hidup bersamanya, tidak pernah sekalipun aku melihatnya tersenyum lebar, wajahnya terlalu menyeramkan.
Tapi dia baik sama aku, tidak pernah menggangguku, justru dia yang selalu menjagaku di sekolah setiap ada yang berusaha merudungku.

Tapi.. aku tetap membencinya.
Maka aku berusaha mati-matian merebut hati ibu agar selalu memperhatikan aku.

Seperti malam saat Luna berulang tahun.
Ibu sudah mempersiapkan segalanya, memintaku membantunya membuat kue dan segala hal untuk membuat kejutan Luna saat dia kembali ke rumah.

Luna suka melukis, dia selalu pergi ke suatu tempat setelah pulang sekolah. Aku pernah sekali mengikutinya, ternyata dia suka duduk di pinggir danau seharian melukis, itu dilakukan tanpa sepengtahuan ibu. Dan aku tidak sekalipun memberitahu ibu bahwa Luna sebenarnya memiliki passion yang sama dengan dirinya.

Aku membenci Luna.
Dia punya semua yang ada di ibu, sementara aku mati-matian belajar agar aku bisa seperti ibu.
Lalu malam itu, saat tiba-tiba Luna pulang, dengan senang ibu lalu menyalakan lampu dan memberikan kejutan.
Tahu apa yang kita dapatkan dari Luna.
Bukannya senang dia justru pasang muka datar, sudut bibirnya terangkat saat melihatku memegang kue ulang tahun.
 Aku membenci tatapan itu, dia meremehkan aku.

Selamat ulang tahun..
Selamat ulang tahun..
Selamat ulang tahun Luna..Selamat ulang tahun.

Suara ibu terdengar merdu menyanyikan lagu itu.
Ibu berusaha mendekat ingin memeluknya.

"Ibu.. aku bukan anak kecil lagi." Luna berusaha menolak tapi ibu tak menghiraukannya, tetap merengkuh Luna dengan lembut.
Saat itu aku menatap Luna, apa yang aku lihat jelas tidak pernah bisa aku lupakan. Dia tersenyum sinis. Aku berusaha tersenyum kepadanya tapi justru dibalas seperti itu.

"Selamat ulang tahun Luna.." aku berusaha maju beberapa langkah untuk mendekat dengan kedua tangan menopang kue ulang tahun. Ibu bergeser ke kanan memberikan aku ruang.

Saat itu.. dengan sengaja aku menjatuhkan kuenya tepat didadanya.

"Yah.. sorry Luna.. kakiku tersandung. Ibu gimana ini.." aku berpura-pura panik.
Ibu langsung menyeka baju Luna, dengan cepat Luna menepis tangan ibu.

"Biarin aja. Jangan dibersihin bajuku." dia berlalu pergi meninggalkan aku dan ibu.

Saat ibu tengah mengambil serpihan kue yang jatuh di lantai, aku menengok ke belakang, melihatnya berjalan dengan wajah tertunduk masih menatap bajunya yang kotor, aku tersenyum puas, merusak pesta ulang tahun Luna.

Lalu jantungku terasa berhenti, dan aku merasa sesak, saat Luna membalikkan badan, tersenyum lebar kepadaku.

Senyum itu membuatku tidak pernah bisa hidup tenang bersamanya.

Luna.. aku ingin menjadi putri ibu satu-satunya.


to be continued..


"Sempurna tidak lantas membuat dirimu menjadi manusia seutuhnya."


Prolog :

Luna Melatiku

Usia tujuh belas tahun, hobby.. belum tahu.
Warna favorit merah.
Makanan favorit.. enggak ada.
Hapephobia
Rambut hitam, casual, suka pakai jeans dari
pada dress.
Enggak punya ambisi
Jago melukis
Penyendiri.
Tinggi : 170 cm
Berat Badan : 60


Mawar Meraku

Usia delapan belas tahun
Hobby.. katanya melukis
Warna favorit putih dan pink, tapi bisa juga warna lain sesuai hatinya
Makanan favorit sphageti
Ambisius
Rambut hitam lurus, feminim, stylish, selalu fokus dengan penampilan
Pintar, cantik, baik.
Histronik
Muchausen
Tinggi : 165 cm
Berat Badan : 50




3 comments

  1. Cerita ini bukan cerita yang cukup dibaca sekedarnya. Setiap kata, kalimat atau alur cerita mesti di 'seksamai'... hebat kak ratna, semoga lanjutannya terus terjaga seperti ini. Menarik. Keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Kak Tuty.. thanks for you comment.
      Semoga istiqomah ya nanti ceritanya. Makasih supportnya Kakak specialque

      Delete
  2. Ada suspense yg terbangun di awal cerita, setiap karakter menakar karakter lain lewat apa yg mereka lihat. Harapannya, cerita ini akan bergenre thriller...hahha...yuk dilanjut ceritanya

    ReplyDelete

Jangan lupa komentarnya Kakak. Terima kasih sudah memberikan komentar baiknya.