dua luka

cerpen,cermin, dua luka, storial




Satu Desember 2019

Minggu sore saat langit gelap menutupi separuh penerangan kamar tidurku dari jendela berkaca bening, aku mendesah, gelisah, saat suara notif pesan masuk dari ponsel milikku yang tergeletak tepat di samping kanan posisi aku duduk saat ini.

Istri

Nama pengirim pesan itu.

Kamu sibuk enggak?

Tulis pesan singkat dari ponselku.
Saat aku masih mengetik, ponselku lebih dulu berdering.

Istri

Panggilan masuk..

Aku menggeser tanda panggilan berwarna hijau, menempelkan ponselku tepat disebelah kanan telingaku.

Hallo

Suaranya parau, pelan lalu tertahan.

Iya

Jawabku.

Lalu aku teringat percakapan yang tak sengaja ku dengar antara istriku dan kedua temannya di sebuah cafe kemarin, saat jam pulang kantor. Aku tanpa sengaja datang ke tempat itu untuk membeli minuman kesukaan dia, pikirku.. ingin memberinya hadiah saat aku pulang ke rumah, tapi semuanya gagal.

Ran.. kamu sibuk?

Kini suaranya gemetar.

Enggak

Kataku, tangan kiriku reflek menarik selimut lalu meremasnya, aku butuh sesuatu untuk aku jadikan pengalih pikiranku saat seperti ini. Nala..

Bisa kita ngobrol sekarang?

Aku mengangguk cepat, meski aku tahu dia tidak akan melihat gesture tubuhku saat ini.
Dalam hal apapun Nala, sejak saat kita hidup bersama dia berusaha keras untuk menjaga sikapnya terhadapku, tepatnya dia lebih mengalah dan pengertian untuk selalu berusaha membuatku nyaman bersamanya, kita tidak saling mengusik kehidupan masing-masing.

Ran..

Suaranya masih parau dan gemetar.

Hmm..

Apa kamu pernah jatuh cinta?

Tangan kiriku meregang, kedua mataku terpejam,  aku menahan nafas, terasa sesak.
Aku..

Anggap aja aku bukan istrimu, tapi seseorang yang enggak pernah kamu kenal bertanya kepadamu.

Lanjut Nala, dia.. menangis.

Perlahan aku bangkit, berjalan keluar kamar. Tangan kiriku gemetar, tapi kutahan sebisa mungkin.
Nala..

Matanya sembab.. dia tengah menangis saat ini.

Dan aku.. membuatnya menangis.

Jadi.. semua yang sudah pernah kita sepakati di awal pernikahan harus berakhir, sekarang.

Suatu hari kalau aku membuatmu menangis, maka saat itu pula kita berpisah.

Itu adalah kalimat yang aku katakan padanya saat malam setelah pesta pernikahan kita.

Ran.. aku.. mau kita udahan.

Baru saja tangan kiriku meraih handel pintu saat suara Nala membuat jantungku terasa berhenti bernafas.

Aku telah membuatnya terluka..

Aku telah membuatnya menangis.

***


Di Kamar Nala..

Ada yang bilang ketika kita kehilangan cinta, obat paling mujarab adalah cinta itu sendiri. Artinya yah udah menerima cinta yang lainnya.

Tiga bulan yang lalu saat aku kehilangan cintaku, maka aku memutuskan untuk menerima cinta yang datang saat itu.

Bukan, tepatnya bukan cinta yang datang dari seseorang tapi cinta yang datang kepadaku saat itu, cinta kedua orang tua kita. Dan aku salah..
Tapi bukankah baik saat kamu patah hati ada seseorang yang menemanimu, aku terlalu naïf bahwa dengan berjalan waktu aku.. kita tepatnya bisa saling jatuh cinta, ternyata semua itu bohong. Tidak benar-benar ada di duniaku.

Untuk yang kedua kalinya.. aku terluka..

Maka sejak malam itu aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya sebelum aku terlalu jatuh cinta kepadanya.

Aku yang memintanya untuk mengabaikan keberadaanku saat awal kita tinggal bersama,

Jangan hiraukan aku, untuk waktu yang entah kapan, kamu udah tahu semua cerita hidupku khan. Maka mari kita hidup bersama tanpa harus mengurusi kehidupan masing-masing.

Lalu semuanya aku yang mengatur, aku memilih kamar tidur di lantai 1 dengan alasan karena aku enggak harus bangun pagi, sementara dia sudah harus berangkat kerja tepat pukul enam pagi. Selama satu bulan aku enggak pernah benar-benar bertemu dengannya, terkecuali satu hal. Vidcall dari kedua orang tua kita. Dan kita berperan dengan baik sebagai suami istri.

Dua bulan yang lalu saat pada akhirnya aku mulai aktif bekerja setelah cuti unpaid selama sebulan, segala hal kegiatanku selalu bersamaan dengannya.

Bangun pagi… sarapan.. berangkat kerja bareng..

Aku terlalu egois, dia terlalu baik.

Maka ketika dua orang yang memiliki karakter yang sama, bukan berarti mereka pun cocok dan serasi sebagai pasangan hidup.

Kita terlalu sempurna, terlalu sukses dalam kehidupan karir dan impian, tapi tidak untuk hal cinta.
Maka entah apa yang ada dipikiranku saat ini, aku menelponnya dari kamar tidurku, padahal kita bisa bertemu lalu duduk bertatap muka, aku.. terlalu pengecut untuk mengatakannya secara langsung.

Jari tanganku sudah menekan ‘Send’  bersamaan dengan hujan turun sangat deras, anginnya kencang saat aku melihatnya dari balkon kamar. Gelap.

Ekpresinya pasti sama saat ini..

Hallo..

Kataku mengawali

Lama suara itu tak menjawab.

Aku berusaha tenang, tapi suaraku gemetar, entah kenapa padahal sebelumnya aku baik-baik saja.

Iya

Dia begitu tenang.

Ran.. kamu sibuk?

Tanyaku padanya, aku tahu kebiasaannya walau hari libur dia akan tetap kerja.

Enggak

Jawab Ran, dia berbohong. Aku tahu dia berbohong.

Bisa kita ngobrol sekarang?

Terakhir kali kita ngobrol seminggu yang lalu, tepatnya setelah itu kita tidak pernah saling menyapa.

Apa kamu pernah jatuh cinta?

Entah kenapa pertanyaan itu tiba-tiba muncul dari pikiranku, tapi sebenarnya bukan tanpa alasan, sejak aku bersamanya, hmm.. lebih tepatnya hidup seatap, dia tidak pernah sekalipun terusik dengan kehadiranku. Meski sejak awal aku memintanya untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing, tapi menurutku dia terlalu dingin dan tidak berperasaan terhadap wanita.

Lalu aku goyah, saat diam-diam aku sering memperhatikannya, aku.. mulai menyukainya.
Dia terdiam seperti biasa.. lama aku menunggu jawabannya.

Anggap aja aku bukan istrimu, tapi seseorang yang enggak pernah kamu kenal bertanya kepadamu.

Setelahnya kalimat itu yang keluar dari bibirku.

Aku tidak tahu lagi harus berkata apa, saat dia tetap diam.
Dan lalu aku merasa hidupku sangat menyedihkan.
Saat aku berusaha untuk mencoba menerima teori tentang kehilangan cinta harus menerima cinta yang baru, ternyata semua salah, justru aku terperangkap di dalamnya.

Aku.. salah menerima semua perlakuannya.
Aku terlalu naïf.
Aku takut..
Lalu..

Ran.. aku.. mau kita udahan.

Aku menunggu.. menunggu kalimatnya, tapi dia tetap bertahan, diam.

Dadaku terasa sesak, aku menangis, setelah ku tutup percakapan dengannya. Kamar ini terasa dingin.


to be continued..


 Note : ini kisah terinsipirasi dari dua temanku yang kini hidupnya sudah bahagia setelah melalui waktu yang hmm.. 



"Terkadang kita salah dalam berasumsi tanpa lebih dulu mengkonfirmasi, maka.. bicaralah dengan jujur untuk sebuah masalah sebelum berakhir karena sebuah kesalahan dalam berasumsi."  kata_fa


2 comments

  1. Diam seperti menghantar menuju anak kunci cinta

    ReplyDelete
  2. Duh Kak Tuty komen kamu aja puisi banget Kak. Ini bisa aku pakai ih di chapter berikutnya hehe

    ReplyDelete

Jangan lupa komentarnya Kakak. Terima kasih sudah memberikan komentar baiknya.