Selamat Tinggal Matahari (Cerpen)

Museum Multatuli, Lebak Banten, Max Havelaar, Museum Heritage

Padahal sudah berulang kali ku katakan, "Selamat tinggal matahari."

Tapi kali ini aku menatapnya kembali, saat aku ingin bertemu denganmu.

Aku tak pernah berpikir bahwa perjalananku akan berakhir seperti ini.

Aku hanya bisa menatap rumah bercat putih dengan warna yang sudah mengusang digerus waktu, pagar tinggi warna hitam berdiri angkuh, memaksaku untuk tidak melaluinya.

Garis-garis samar tentang masa lalu membuatku sesak. Berdiri menatapmu dalam bimbang dan penasaran, benarkah kau telah pergi atau mungkin kau masih di sini. Tarikan napas kedua menyadarkanku, sungguh kau terlalu egois membiarkanku berdiri termangu menatapmu tanpa bisa menjamah kehidupan masa lalumu. Seperti itukah engkau menyambutku pagi ini.

Aku tahu jika aku tak pernah pergi ke Rangkasbitung, mungkin aku tak akan pernah benar-benar mengenalimu. Setidaknya mencium aroma udara yang sama denganmu meski telah berubah.

Kali ini ku biarkan engkau menghalangi langkahku untuk mendekat selangkah ke dalam kehidupanmu. Bukan berarti aku menyerah.

Lalu saat pagar hitam nan tinggi menghalangi pertemuan kita, sebuah hasrat lain berbisik mengajakku untuk segera beranjak.

Ada sebuah tempat lain yang menunggu kedatanganku untuk bertemu denganmu. Sudut bibirku kerkedut memikirkan hal itu.

Lalu kau tersenyum dengan pongah masih sama seperti dulu, senyum penuh semangat dengan ketampanan rupamu.

Baiklah!
Kali ini aku mengalah.

Suara bising dan matahari lagi menyergapku saat kaki kecilku melangkah lebih dekat denganmu, tempat yang indah, kataku dalam hati, kakiku telah menjejak lebih dekat denganmu.

Aku tersenyum, saat wajahmu berubah lebih manis dari sebelumnya. Lelahku terbayar dengan senyum tulus yang tersungging di wajahmu, menyambutku.

Selamat Datang, sapamu dengan bahasa  yang nyaris tak kumengerti saat langkahku semakin dekat.

Kau masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah.

"Well, kau boleh berjalan bersisian denganku. Jangan berisik, nikmati saja setiap detail tentang aku. Sudah lama kau merindukanku kan."

Aku hanya bisa tersenyum, saat kalimat itu terucap dari bibirmu.

Sudah lama aku merindukan pertemuan ini.  Benarkah?

Aku tersenyum geli, berapa lama perjumpaan ini telah ku nantikan.

Saat aku melirik, kau justru tersenyum puas. Mengangkat dagumu tinggi, pongah. Tapi tetap saja wajahmu selalu bersahaja dan menyenangkan.

"Bolehkah kita menjejak kenangan?" aku merajuknya untuk mengambil gambar.

"Ne.. Ne.." telunjuk tangan kananmu langsung terangkat kepalamu menggeleng lambat.

Baiklah!
Aku mengangguk paham.

Jadi, seperti ini pertemuan yang lama ku rindukan.

Saat waktu membatasi kita untuk saling bersapa, bercerita lalu berkisah. Tubuhku melongok sedikit keluar pintu, ah matahari masih sama.

Aku menarik tubuhku, menoleh, saat bersamaan kau menertawaiku.

Ruangan tak beraroma yang kini tengah ku jejaki bersama impiannya dulu, membuatnya berkali-kali tersenyum, atau terkadang mengangguk, bahkan sesekali dahinya berkerut setelahnya wajahnya terlihat serius.

Ah.. kau seperti ini nampaknya.

Matahari mengingatku kembali, waktumu telah usai.

Multatuli atau siapapun namamu, pertemuan ini sangat berarti.

Pada akhirnya harus ku ucapkan, selamat tinggal matahari.

Esok dia akan kembali dengan kisah yang baru.

Tot Ziens..
Selamat tinggal..




6 comments

  1. Wuihhhhh keren langsung nulis.. indah banget dan humanis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mba Tuty. Aku nahan kisah ini sepanjang perjalanan kemarin hehe

      Delete
  2. Cerita ini sangat dalam dan mengesankan sebuah perpisahan yang begitu berat. Berat dan sangat berat. Kalaulah diberi kesempatan untuk bertahan, pasti akan bertahan. Namun apa daya semesta menakdirkan lain. Matahari yang menyorot dari Timur harus ditunggal.

    Keren banget Kak, dalem.

    ReplyDelete

Jangan lupa komentarnya Kakak. Terima kasih sudah memberikan komentar baiknya.