Cinta Itu Aku



hyun bin, drama korea, ost secret garden, Baek Jo Young, drama korea gila, fans hyun bin, lagu korea


                
Aku berjalan menyusuri tepi Pantai Jungmun. Sendiri, tak kurasakan dinginnya hembusan angin pantai yang menyapa tubuhku. Entah mengapa aku masih tak bisa melupakannya, 4 tahun bukanlah waktu yang singkat.

               
Indahnya pemandangan Pantai Jungmun tak bisa menghibur hati ku yang beku. Sungguh, sangat melelahkan batinku. Peristiwa dua hari yang lalu, membuat aku berada di sini. Entah apa yang aku pikirkan saat ini.

                
"Hyung.., maaf kan aku!" ku seka butiran lembut nan hangat di kedua pipiku.

                
Ku coba untuk menahannya. Deburan ombak menyapu kakiku. Sepanjang pantai terlihat para wisatawan asyik bermain selancar,  dan yang lain sekedar bermain di tepi pantai bersama keluarga,  tak begitu banyak pengunjung membuat suasana di sini begitu terasa romantis. Sepasang kekasih sedang memadu kasih ditepi pantai, mungkin mereka menanti Sunset

Aaccchhh... Sungguh, aku tak bisa merasakan kebahagian yang mereka rasakan. Entah, aku pun tak mengerti. Mengapa tiba - tiba aku datang ke tempat ini.

                
Pantai Jungmun, pulau Jeju... pesawat penerbangan pukul 11 Busan pagi tadi membawaku ke ke sini, aku sendiri tak tahu mengapa tempat ini yang selalu ada di benakku ketika aku merasakan ketidak nyamanan dalam diriku dan tempat inilah yang selalu membuatku merasa tenang. Ku rapatkan jaket coklat hadiah dari Hyung, saat kepergiannya ketika itu. Aku tak bisa menyangkalnya. Semakin aku menolaknya, perasaanku semakin sakit. Aku tak bisa seperti ini selamanya. Aku harus segera menyeleseikan kesalahpahaman antara aku, Hyung Jun dan Ji Won.

                
Malam itu, malam ketika aku bertemu Hyung untuk pertama kali, setelah kepergiannya 4 tahun yang lalu. Pertemuan tak sengaja antara aku dan Hyung dalam sebuah acara pernikahan salah satu teman SMA ku dan Hyung dulu. Malam itu aku bersama dengan Ji Won, dan perasaan itu mencuat tak terkendali dalam relung hatiku, debaran jantungku ketika aku bertatapan dengannya aku yakin membuka semua tabir tentang perasaanku yang sebenarnya selama ini terhadap Ji Won. Aku tak bisa menyangkalnya bahwa aku masih mencintai Hyung. Pertemuan itu merubah hidup ku seketika, perasaan yang telah lama aku pendam dan ku buang, kini muncul kembali. Setelah aku memutuskan untuk bersama Ji Won.

                
Aaaah... Aku menghela nafas panjang. Air mataku tetap jatuh, tak bisa kutahan. Sungguh Hyung, mengapa kau datang ketika semuanya telah aku akhiri. Dan ternyata, aku masih tak bisa melupakan dirimu. Dan parahnya lagi, Ji Won mengetahui perasaanku yang sebenarnya terhadapmu, Hyung.

                
Hyung adalah masa lalu ku, yang telah lama ku kubur di dalam hati ku. Aku tak boleh menyakiti perasaan Ji Won, dia terlalu baik untuk disakiti. Namun aku tak kuasa menahan perasaanku terhadap Hyung. Ketika akhirnya aku tahu bahwa ia memiliki perasaan yang sama terhadapku. Malam itu aku mengetahui semuanya, tatapan mata Hyung menyadarkan aku bahwa Hyung pun menyimpan rasa itu. Namun, kepergiannya kala itu membuat hatiku hancur. Secarik kertas putih dan kotak warna hitam berisikan jaket coklat tergeletak di depan rumahku, hanya sebuah ucapan selamat tinggal dan tanpa alasan Hyung pergi ke luar negeri. Dan akhirnya aku tahu, kepergiannya karena tuntutan keluarga. Tak pernah ada kabar sekalipun tentang Hyung hingga aku memutuskan untuk melupakannya, selamanya.

               
Di sini, di Pantai Jungmun. Tempat dimana pertama kali aku bertemu dengan Hyung. Saat itu aku kabur dari rumah karena ada masalah dengan ayah ku. Kami bersama menyaksikan indahnya pemandangan pantai sepanjang hari. Melihat indahnya pasir pantai Jungmun yang bisa berubah warna, hitam, putih dan terkadang merah. Kini aku tahu jawabannya. Mengapa aku bisa sampai di tempat ini.

                
Suara telepon seluler dalam saku jaketku terdengar dengan keras. Ku rogoh saku jaketku, di layar tertera nama Ji Won, enggan rasanya, ku masukkan kembali, entahlah aku malas untuk membaca isi pesan dan menjawab telepon darinya. Aku tahu, ia dan semua keluargaku saat ini mereka sangat mengkhawatirkan aku. Tak ada satu orang pun yang tahu tentang keberadaanku disini. Ku dekapkan kedua tanganku, semakin dingin angin menerpa tubuhku. Aku tak seharusnya berada disini, namun aku tak bisa menemui mereka saat ini dan kembali pulang.

               
Ku sapu pasir di depan ku, sambil berjalan ku tendang lagi pasir pantai. Tak ku hiraukan dinginnya udara laut. Aku masih di sini, entah sudah berapa lama aku di pantai ini. Ketika aku ingin menyapu gundukan pasir di bawah kaki ku. Tiba - tiba langkah ku terhenti, sepasang kaki menghalangi ku. Terpaksa aku berhenti, aku sudah hampir marah dan kesal. Siapa yang berani iseng terhadap ku. Aku mendongak, menutup mulutku dengan kedua tangan, shock. Seketika jantung ku berdetak kencang tak beraturan. Tuhan.. Apakah benar, laki-laki dihadapan ku.. Hyung tersenyum. 

Aku masih terkejut dengan kehadirannya. Tubuhku terasa kaku dan beku tak bisa ku gerakkan, seakan waktu terhenti dengan seketika. 4 tahun yang lalu.. aku masih mengingatnya, aku dan Hyung  di sini.

                
Tiga puluh menit, aku dan Hyung saling diam, duduk terpaku dengan pikiran masing-masing. Di dalam mobil sedan hitam Hyundai. Aku masih belum bisa mengatasi gemuruh jantung ku. Kami terdiam, Hyung duduk di sebelah kiriku. Ku pandangi pembersih kaca mobil, bergerak naik turun seakan tak mau membiarkan rintikan air hujan jatuh di atas kaca mobil si tuan rumah. Cuaca sore seakan memahami perasaan ku dan Hyung, dingin dan beku. Hujan semakin deras, suara deburan ombak seakan mewakili deburan hati ku. Sepi, sunyi, tak nampak lagi orang di tepi pantai. Awan hitam, dan kilatan petir tak menggoyahkan perasaan ku. Aku dan Hyung masih terdiam. Aku merapatkan jaket ku. Tanganku gemetar,  menggigit bibir ku. Dingin, dingin sekali. Penghangat mobil tak berfungsi dengan baik, bukan karena pengaruh cuaca tapi perasaanku, yang membuat tubuh ku beku. Aku tak berani melirik ke kiri, Hyung masih diam tak bergeming. Tiba-tiba tangan ku merasakan kehangatan.

               
Hyung meraih tanganku, digenggamnya erat, membuat sekujur tubuh gemetar. Aku berusaha menarik tangan ku, namun tangannya kuat sekali. Seakan dia tak mau melepaskan genggamannya, Aku pun pasrah, kehangatan menjalar di sekujur tubuhku, bagai aliran listrik, mengalir perlahan masuk ke ruas pori-pori dan aliran darahku. Wajah ku merah seketika, aku tak bisa menyembunyikannya. Aku pun tertunduk.

                
Kami larut dalam pikiran masing-masing. Menyaksikan butiran air hujan yang jatuh di kaca mobil. Tiba-tiba aku teringat wajah Ji Won, dengan reflex ku tarik tanganku dari genggaman Hyung,

 "Aku mohon, jangan kau lepaskan.." pintanya. Ia semakin menggenggam erat tangan ku. Namun pandangannya tetap kedepan, kulihat dia. Wajahnya tenang. Tenang sekali... Aku pun tak ingin melepaskannya. Serasa ada energi lain yang kami rasakan, walau kami hanya terdiam dalam waktu cukup lama, namun kurasakan kedamaian dalam hatiku. Perasaan yang tak pernah bisa hilang dalam diriku.

               
Ada perasaan bersalah ketika aku teringat wajah Ji Won. Namun aku tak bisa membohongi diriku, bahwa aku masih sangat mencintainya. Ku biarkan ia menggenggam tanganku. Tubuhku tak merasakan lagi dinginnya udara. Hujan semakin lama semakin menghilang, awan hitam pekat kini telah pergi dan berganti dengan hamparan warna pelangi yang membias di atas awan. Deburan ombak menghilang dari telingaku, sama seperti jantungku perlahan mulai beraturan dan tenang. Aku tak bisa menahan kedua mataku sangat lelah.

                
Mmmmhhhh.... aku menggeliat , mata ku masih enggan terbuka. Samar - samar ku buka mataku. Ku dapati tubuh ku terselimuti sweater coklat milik Hyung. Dengan posisi kepala bersandar di jok mobil, tubuhku meringkuk. Serta merta aku bangun, ku lihat Hyung tak ada disamping ku. Huuh.. Sudah berapa lama aku tertidur. Aku tak bisa membayangkan bagaimana bisa aku terlelap tidur di samping Hyung. Haaaaah.. Aku memukul-mukul kepala ku. “Bodoh sekali!!!” gerutuku sambil memukul kepalaku sendiri.

                
"Kamu sudah bangun Na-ya? " aku terkejut, tiba - tiba Hyung membuka pintu mobil.
Wajahku memerah, “Sudahlah, kamu enggak usah, Bukankah dulu kamu sering tertidur dipundakku” godanya.

                
“Kamu masih seperti dulu Na-ya, terlihat cantik ketika bangun tidur.” Hyung menatapku dan aku tertunduk menyembunyikan wajahku.

                
Oh Tuhan.. aku malu sekali, apa yang harus aku lakukan. Ingin rasanya lari secepatnya, namun tak mungkin. Aku tahu Hyung hanya menggodaku, mana ada orang bangun tidur terlihat cantik. Dengan cepat ku rapikan rambutku dengan kedua tanganku, ku tarik kaca di atas kepalaku. Aku melirik ke Hyung, ia masih juga tersenyum memperhatikan aku tak berkedip. Aku semakin kikuk dan aku menoleh ke arahnya memasang senyum termanisku untuk menghilangkan rasa malu dan.... aaaaahhhhhh aku tak tahu.

                

"Jangan kamu lepas sweaternya, kamu  kedinginan. Mengapa kamu ingin sekali melepas semua milik ku Na-ya. Apa kamu masih membenciku. Kamu masih belum bisa memaafkan ku" ucap Hyung dengan tiba-tiba. Deg.. jantungku berhenti, mengapa ia berkata seperti itu. Asal kau tahu Hyung, aku tak pernah bisa membenci mu. Aaacchh.. Bodohnya aku, mengapa aku bersikap seperti ini.

                
“Bukan... bukan seperti itu Hyung.” aku dengan cepat berusaha meluruskan apa yang sedang ia pikirkan. Tak seharusnya aku melepaskan sweater miliknya.

                
“Aku hanya tidak ingin melihatmu kedinginan, bibirmu terlihat pucat.” Ku berikan padanya, namun ia menolak. Ku paksa ia untuk memakainya, karena aku tahu ia tak akan bisa bertahan dengan udara dingin. Ku dekatkan tubuhku dan ku pakaikan.

                
“Aku tak akan membiarkan kau menderita demi aku”. Akhirnya Hyung hanya diam dan tanpa sengaja tanganku  menyentuh tangannya. Hyung memegangnya, kami hanya berjarak beberapa centi dalam posisi aku berada tepat dihadapannya dalam posisi duduk  dengan kedua kakiku terangkat dikursi, beberapa saat kami terdiam saling menatap. Aku dengan cepat menarik tangan dan duduk manis menatap lurus kedepan kaca mobil. Tak berani aku menoleh ke sebelahku. Jantungku masih berdegup.. suara mesin mobil menyadarkan aku.

                
Dalam perjalanan pulang, kami larut dalam hayalan dan lamunan kami. Tak ada percakapan sepanjang perjalanan. Hanya deru mobil yang terdengar. Seakan kami larut dalam alunan lagu yang mengalun di DVD player, suara merdu Baek Ji Young melarutkan aku dan Hyung..


Olmana.. Olmana tto naerul

Ireoke baraman gumyoen honja...

I babo gataeun sarang..

I goji gaetun sarang..

Gyeoskeyo niga naerul sarang hagenni..

Jogeumman gakkai wa, jogeumman..

Hanbal daga gamyeon, dubal dumang ganeun..

Neol sarang haneun na, jigeumdo yeope isseo..

Geu yoja umnida..



The end...

by.
~Ratna Fa


(Terinsipirasi dari soundtrack Drama Korea "Secret Garden")
Naskah 2010


Baca Juga: Luka Yang Bercerai

Tidak ada komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Alangkah baiknya jika setelahnya, meninggalkan jejak kata, yang baik dan sopan ya.