Wiro Sableng Yang Enggak "Sableng"








Siapa yang enggak kenal toko Hero dalam buku Wiro Sableng 212. Dulu semasa saya kecil senangnya bukan main setiap kali dapat duit terus lari ke tempat penyewaan buku dekat sekolahan. Enggak tahu kenapa suka aja sama ceritanya. Sering banget ngebayangin tokoh-tokohnya.
Nah pada akhirnya stasiun TV swasta membuat cerita bersambung dalam bentuk sinetron. Ngikutin jalan ceritanya sampai kelar. 

Mengenal Wiro Sableng itu seperti melihat toko Hero unik lain dari yang lain. Bisa ngikik enggak jelas setiap membaca bukunya atau terkadang terpingkal pingkal membacanya. Beneran terbawa emosi. 

Tahun ini Wiro Sableng muncul lagi dalam sosok Tito Subastian yang pada kenyataannya adalah putra penulis buku Wiro Sableng. Sebagai penggemar Wiro, tentunya saya senang tatkala membaca artikel perihal rencana produksi film ini. Alih-alih menunggu saya juga mengikuti perkembangan saat shoting berjalan di IG atau trailer di youtube. 

Bagus seh!

Minggu kemarin akhirnya bisa juga duduk manis di bioskop kali ini ditemani dua dedek manis. Bangga film Indonesia bisa eksis lagi. Dan film-film genre seperti ini sangat dinanti tentunya. 

Saya suka nonton film bergenre pendekar apapun bahasa dan produksi negara mana saja. Karena dengan demikian saya jadi paham sejarah. Emang suka sejarah #eh

Enggak perlu nunggu iklan lama, entah kenapa duduk lebih lima belas menit akhirnya film dimulai. Sebenernya seh udah kebayang alurnya akan seperti apa. Saya lebih penasaran dengan para tokohnya. Iklan posternya kan keren, trailer potongan adegannya juga keceh.

Oke.. sepuluh menit berjalan..
Tiga puluh menit berjalan..
Masuk menit ke empat puluh saya mulai bosan.
Enggak seperti yang ada dalam bayangan saya.

Wiro Sableng iki ora Sableng menurut saya.
Apa yah.. kurang greget, kurang penjiwaan, lebih terkesan biasa aja.
Oohh.. saya padahal suka Mas Tito jadi peran apapun disetiap filmnya tapi kali ini. Maafkan saya!
Harusnya lebih totalitas, kurang kurus seh body-nya. Mas kenapa enggak diet dulu.

Settingnya keren!
Semuanya keren secara visual tapi... para pemainnya kurang total.
Masih ingat film Pendekar Tongkat Emas? Saya enggak bandingin hanya saja bok yah  belajar dari film ntuh๐Ÿ˜€

Mungkin penulisnya ingin penonton tertawa disela-sela dialog dibubuhi celutukan Wiro yang tapi menurut saya kok enggak nyambung ya sama jamannya Wiro. Jadi mirip Dilan kwkwkwkw
Ini juga seh yang perlu digaris bawahi oleh penulis naskah film Memang enggak mudah menulis kembali sebuah buku atau novel yang isisnya berhalaman-halaman harus dijadikan script scenario. Susah banged pastinya.

Tapi... jangan gituh ngapah!
Wiro jadi Tito sebenarnya..
Opo perasaan aku ajah!
Enggak seh lah wong teman saya saja terkikih sambil nyeletuk berkali-kali.. 

“Kenapa harus gituh seh.. kok aneh seh..”

Wes pokoke kalau menurut saya "Wiro itu Ora Sableng blas di film ini, sing Sableng penontonnya" ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ (Kitah)




Salam,

~dha








 

Tuh kan beneran ikutan Sableng ๐Ÿ˜Ž



 

Tidak ada komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Alangkah baiknya jika setelahnya, meninggalkan jejak kata, yang baik dan sopan ya.