Begini Rasanya Jadi Kaum Minoritas di Negeri Tetangga.

Saya tidak pernah terbayang ketika dulu sering kali membaca artikel atau cerita teman yang tinggal di luar negeri perihal menjadi kaum minoritas.

Saat beberapa bulan yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi Bangkok tidak juga memikirkan bahwa betapa sulitnya beribadah untuk kami di sana.

Awalnya saya berpikir pasti akan ada Masjid atau Mushola, setidaknya ada gituh.

Tapi ternyata sepanjang perjalanan saya berusaha bertanya kepada penduduk sekitar perihal Mushola atau tempat ibadah, enggak ada.

Masak seh enggak ada sama sekali.

Saya berusaha untuk optimis bahwa pasti adalah satu tempat ibadah untuk kami.

Alih-alih yakin sampai tiba waktu Dhuhur dan sudah jauh melangkah, enggak satupun saya temukan.

Oke, coba aja lagi kita jalan siapa tau nanti dilokasi selanjutnya ada.

Tiba disalah satu lokasi bernama Wat Pho waktu sudah pukul setengah tiga sore. Saya pun masih berusaha untuk bertanya kepada penduduk sekitar dan polisi setempat, tetap tidak ada. Mereka hanya menggelengkan kepala.

Saya sudah lelah berjalan kaki dan berharap bertemu Mushola tapi tetap tidak ada.

Akhirnya saya duduk sejenak, sementara kedua teman saya berkeliling dan berfoto ria disekitar Wat Pho.

Saya memperhatikan semua pengunjung dan lingkungan  sekitar, bathin saya.

Ini lokasi besar banged, luas banged tapi kenapa enggak ada Mushola.

Saya lupa kalau saat ini saya tengah berada di negeri yang mayoritas penduduknya adalah Non Islam dan saya sedang tidak di Indonesia. Saya terdiam, lalu tiba-tiba saja saya menangis teringat Indonesia (Lebay.. enggak seh!)

Beneran!

Tiba-tiba saya rindu Jakarta, rindu Indonesia, saya bisa beribadah di mana saja tanpa perlu khawatir tertinggal waktu Sholat.

Lalu teringat betapa Indonesia menjadi negeri kebanggaan. Hanya di Indonesia semua tempat ibadah ada bahkan berjejer saling berdampingan.

Saya masih merenung, memikirkan tentang Indonesia.

Ah.. saya bangga jadi bagian Indonesia.

Lamunan saya bubar ketika mendengar suara keras dari samping tempat duduk saya. Rombongan dari Jepang, mereka sebanyak hampir 50-an. Entah apa yang tengah mereka perbincangkan.

Saya hanya meringis masih memikirkan, betapa Indonesia sangat menjujung tinggi toleransi.

Seandainya saja kaum mayoritas di Indonesia egois dan tidak peduli mungkin bisa jadi hanya ada bangunan masjid bertebaran dihampir seluruh pelosok negeri.

Pada akhirnya saya bisa melaksanakan sholat tepat pukul setengah enam di sekitar Asiatique. Saya menemukan masjid, betapa senangnya.

Iyah seperti itulah kita kaum minoritas di negeri tetangga.
Yuk bercerita.

Bagikan kisahmu untuk sejarah hidupmu sendiri.

Wassalam,

@kimidha2528

Tidak ada komentar

Berkomentarlah dengan kalimat yang baik dan sopan.