Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Jakarta Masih Jadi Tempat Favorit Para Pencari Kerja.

Gambar
Beberapa waktu yang lalu saya dan seorang teman menyempatkan diri ikut bergabung dalam ajang "Job Fair" yang diadakan hampir setiap tahun.

Sebenarnya saya hanya ingin melihat seperti apa dan bagaimana seh "Job Fair" itu sendiri.

Sesampainya di sana saya tidak pernah berpikir bahwa antusias para pencari kerja seperti itu. Sudah agak siang ribuan pengunjung mengantri untuk bisa masuk kedalam gedung (mirip banged antrian konser musik 😊).

Nah, tadinya saya mau kembali saja karena malas melihat antrian yang aduhai, tapi karena penasaran dan ingin mendapatkan informasi yang lebih detail perihal "Job Fair" itu sendiri, saya pun ikut mengantri.

Wajah-wajah antusias para pengunjung terlihat jelas, dengan satu harapan dan pikiran yang sama, bisa kerja di Jakarta. Mayoritas pengunjung dari luar daerah. Kok tahu?, mereka mengobrol dengan dialek dan bahasa daerah masing-masing.

Saya akhirnya ikut antri dan bergabung dalam antrian, satu persatu barisan maju kedepan. A…

Black Panther dan Penggila [Marvel-icious] Indonesia.

Gambar
Sangat sayang kalau saya tidak meninggalkan jejak dari sejarah pemutaran perdana film besutan Marvels Universe ini, Black Panther

Awalnya saya tidak berniat sama sekali untuk menjadi bagian penonton pertama yang menyaksikan Super Hero tersebut semalam.

Seorang teman menawarkan tiket gratis untuk film ini dikarenakan dengan tiba-tiba sore hari dia tidak bisa ikutan nobar, dia harus menjemput ibunya di rumah sakit, untuk menghargai kebaikannya pada akhirnya saya terima tawaran itu.

Seperti biasa saya sudah yakin sekali bahwa Studio XXI malam ini pasti bakalan penuh oleh para pecinta film Marvels. Masih ingatkan dengan film Captain America yang berhasil meraup keuntungan $1.1 miliar dari seluruh dunia dan film tersebut menjadi film terlaris di tahun 2016 dan Black Panther ikut andil dalam perhelatan film tersebut.

Ok.. kembali ke bioskop.

Antrian panjang dan sesak didalam Studio XXI Kuningan City Mall membuat saya tersenyum. Yah.. yah.. film-film Marvels ibarat "Kacang Goreng" …

Begini Rasanya Jadi Kaum Minoritas di Negeri Tetangga.

Gambar
Saya tidak pernah terbayang ketika dulu sering kali membaca artikel atau cerita teman yang tinggal di luar negeri perihal menjadi kaum minoritas.

Saat beberapa bulan yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi Bangkok tidak juga memikirkan bahwa betapa sulitnya beribadah untuk kami di sana.

Awalnya saya berpikir pasti akan ada Masjid atau Mushola, setidaknya ada gituh.

Tapi ternyata sepanjang perjalanan saya berusaha bertanya kepada penduduk sekitar perihal Mushola atau tempat ibadah, enggak ada.

Masak seh enggak ada sama sekali.

Saya berusaha untuk optimis bahwa pasti adalah satu tempat ibadah untuk kami.

Alih-alih yakin sampai tiba waktu Dhuhur dan sudah jauh melangkah, enggak satupun saya temukan.

Oke, coba aja lagi kita jalan siapa tau nanti dilokasi selanjutnya ada.

Tiba disalah satu lokasi bernama Wat Pho waktu sudah pukul setengah tiga sore. Saya pun masih berusaha untuk bertanya kepada penduduk sekitar dan polisi setempat, tetap tidak ada. Mereka hanya menggelengkan kepala.

S…

Setiap Detik Memiliki Kenangan.

Gambar
Kita adalah aktor dalam naskah Tuhan dan memiliki peran serta karakter yang sudah ditentukan.

Menjalaninya dengan bahagia atau sedih semua tergantung kita sebagai pemerannya.

Setiap detik yang kita lewati selalu memiliki kenangan dalam semua peran yang sudah pernah kita lakukan.

Disaat menjalani peran terkadang kitapun ada masanya merasa lelah atau jenuh, tapi kita akan kembali lagi mengingat peran kita yang sudah digariskan.

Menikmatinya, menjalaninya dengan suka cita adalah salah satu cara untuk kita tetap bahagia.

Bersyukur dengan semua peran yang kita miliki.

Karena sejatinya kita hanyalah aktor dari sebuah skenario yang Tuhan ciptakan, dan yang pasti Tuhan punya cara sendiri untuk membuat skenario yang indah untuk hidup kita.

Sukses selalu buat Bapak-Bapak Tangguh.












Wassalam,

@Kimidha2528

Gia [ The Diary Of A Little Angel].

Gambar
"Gia adalah perjalanan menyusuri cahaya, yang jejaknya menyisakan perenungan".

Demikian tulisan cantik tangan sang penulis pada halaman novel "Gia" saat pertama kali ku buka. Baru membaca pesan ini saja saya sudah terenyuh dan tidak sabar untuk mengenal "De Gia".

Siapa seh Gia?

Ada apa seh sama Gia?

Emang dia siapa?

Kalimat itu yang pertama kali ada dibenak saya ketika pertama kali saya mendapatkan kiriman novelnya, yang saya pesan langsung dari sang penulis, Teh Irma Irawati.

Mencermati kalimat demi kalimat, menelusup setiap detail kisahnya, lalu saya terbawa seakan saya berada pada posisi Gia.

"Apa yang akan saya lakukan jika saya menjadi Gia?".

Saya tidak akan seperti dia, saya yakin tidak akan sanggup menjalaninya.

Ah Gia.. kamu Nak, mengajarkan saya banyak hal [Sambil mengusap air mata]. Yakin, saya tidak akan sekuat Gia, saya tidak akan sesabar Gia. Usianya masih begituh muda tapi kekuatan hatinya, kebaikannya, kesabarannya sangat luar biasa.