Kereta [Gerbong Wanita]

Pagi ini saya memutuskan naik Commuter Line. Alih-alih ingin cepat sampai tujuan agar tidak terjebak macet disaat jam kerja kantor.

Tibalah kereta dan saya sebagai wanita pasti lebih memilih [Gerbong Wanita] karena dirasa lebih aman pastinya. Penumpang sudah mulai merengsek ketika suara dari pengeras suara mengumumkan kereta tiba beberapa menit. Saya pun ikut antri dibarisan. Kereta berhenti bersamaan dengan pintu otomatis terbuka.

Bwaaaaarrr...

Saya tercengang!

Beberapa wanita berusaha menerobos pintu masuk, sementara penumpang yang ingin turun tertahan. Petugas hanya berdiri termangu, pemandangan yang aduhai dipagi hari.

"Woiii kasih penumpang yang turun dulu", teriak saya kencang, spontan.

Beberapa wanita berhenti naik dan penumpang yang turun akhirnya bisa keluar. Tidak lama setelahnya saya pun masuk, didorong keras dari belakang.

Saya hanya tersenyum, betapa kekuatan "Wonder Woman" dikereta sangat dibutuhkan 😂😅, hampir terjatuh tapi beruntung ada seorang wanita menahan tubuh saya sambil tersenyum dibalik masker Hello Kitty yang ia kenakan. Saya hanya mengangguk, sebagai ungkapan terima kasih karena suara saya terkalahkan dengan teriakan para wanita yang lainnya.

"Geser dong.. Geser.."

"Iiihhh nyebelin banged seh enggak mau geser".

Begini yah kondisi [Gerbong Wanita] saat jam kantor. Salud, membayangkan setiap hari seperti ini kepada mereka. Tapi.. tidak ada cara lainkah yang lebih bisa membuat mereka aman dan memikirkan keselamatan diri sendiri. Mungkin bisa jadi ditambahin gerbongnya 😀 (bakalan diprotes sama kaum Hermes baca laki-laki).

Saat perjalanan berdiri berdempetan dengan kedua tangan menahan dinding gerbong, pikiran saya jauh melayang, suara merdu dari mesin pengeras suara terasa sambil lalu terkalahkan dengan bisingan suara-suara seperti tawon, sungguh pagi yang menyenangkan. Kenapa?, karena saya akhirnya mengingat kenangan saat-saat saya bermaen ke negeri tetangga saat jam kantor, situasinya sama seh ramai padat tapi rapi dan tidak brutal. Apa yang salah, mungkin kebiasaan. Kita tidak terbiasa hidup rapi, disiplin dan terkesan terburu-buru.

 Saya sering nonton film negeri tetangga menceritakan tentang kehidupan para pekerja. Mereka mereka memastikan jadwal pergi ke kantor dengan tidak "ngepas" alias "mepet" sehingga ketika kita berada pada posisi "mepet" jam nya maka seperti situasi tadi.

"Kalo enggak gini ntar kesiangan sampe kantor".

😑😊 (Cerita salah seorang penumpang)

Oke noted!.

Jadi teringat saat pengalaman saya naik motor pergi ke kantor. Jarak waktunya adalah satu jam dengan kecepatan sedang. Nah saya pastikan berangkat pukul 6 pagi maka saya tiba di kantor tepat pukul 7 dengan posisi motor sudah full bensin (tidak mampir ke pom bensin 😀) atau tidak juga mampir ke tempat-tempat lain pokoknya langsung tujuan kantor. Nah estimasi perjalanan memastikan kita tepat waktu sampai tujuan.

Beda sepuluh menit saya pernah suatu hari jalan pukul 6.10 menit itu sudah berubah, jalanan makin ramai dan tiba di kantor pun menjadi terlambat setengah jam.

Sama hal nya ketika saya jaman kuliah naik kereta api. Betapa jadwal estimasi perjalanan sangat membantu dan membuat kita tidak terkesan  "terburu-buru". Kalau kita paham kondisi lapangan maka membuat jadwal perjalanan adalah solusi terbaik. Memastikan jam keberangkatan tidak pas banged alias mepet 😊.

Atau mungkin memang armada Kereta Api kurang menampung jumlah penduduk area Jabodetabek yang notabene terfokus bekerja pada jantung ibukota sehingga semua numplek plek di transportasi murah dan tidak terkena macet itu.

Tapi lagi-lagi menurut saya, kembali pada diri sendiri, tertib menjadi penumpang apapun itu, dsiplin pada diri sendiri, dan memahami kondisi dan situasi untuk tidak menjadi orang yang menyebalkan di manapun berada dengan "sepenak udele dewe" 😃😀😊.

Jadi kalian pilih yang mana?

Jadi penumpang yang nyebelin atau penumpang yang menyenangkan 😉

Wassalam,

Kimidha2528.

(Mumpung Sepi Bisa Ngambil Foto 😊) Akhirnya bisa duduk dengan damai setelah berjuang dimenit-menit jam rawan "ngantor".



Komentar

Post Populer

Review Novel Yang Tercinta

Review Novel Pudar

Nonton Film, Antara Hobby dan Kebahagiaan.