Pagi Itu..



Sejak awal aku melihatnya, entah mengapa aku tak pernah bisa memalingkan tatapanku terhadapnya. Pemuda berwajah putih pucat pasi itu selalu saja membuatku ingin lebih lama menatap wajahnya.

Satu minggu sudah aku berada disini, posisi duduk yang menurutku sangat tidak nyaman pada awalnya, namun sangat menyenangkan ketika aku dapat melihat wajah pucat itu setiap saat.

Sebagai warga baru, aku hanya bisa mengamati setiap detail penghuni diruangan ini. Satu persatu aku mulai menghafal wajah-wajah rekan kerjaku, kau tahu! aku penghafal nama yang payah. Dan satu-satunya yang harus aku hafal saat ini adalah bagaimana caranya aku mulai bisa memahami satu persatu pekerjaan baruku.

Seperti pagi ini, tumpukan invoice sudah ada diatas meja kerjaku, seakan mereka telah lama menunggu kedatanganku.

"Ini nanti gini.. ini nanti seperti ini.." jelas Kak Ina, senior ku disini. Aku hanya mengangguk sesekali berkata, iya.

"Paham?" tanya Kak Ina menatapku penuh pengharapan. Aku mengangguk dengan mantap, dia tersenyum puas.

"Kalau enggak paham tanya aja yah." katanya lagi sebelum dia kembali ke meja kerjanya.

Mungkin karena sudah terbiasa dengan tumpukan berkas, aku menerimanya dengan senang hati. Meski aku tahu teman-teman yang lain menatapku dengan berbagai kalimat tanpa terucap, "kasihan!", "Selamat datang", "Akhirnya", aku hanya tersenyum menatap satu persatu teman-temanku itu.

Satu-satunya yang membuatku semangat adalah mereka, tumpukan invoice-invoice itu, tak ada yang bisa mengalihkan pandanganku dari mereka sebelumnya, hingga tatapan mata itu tiba-tiba mencuri perhatianku. Sosok mata tajam, wajah pucat pasi, dan senyum ramah itu membuat gerakan tanganku berhenti lalu menatapnya.

===

Hari berikutnya, seperti biasa aku berkutat dengan tumpukan invoice diatas meja kerjaku. Kertas-kertas ini harus segera berpindah tempat, menyeleseikannya dengan cepat sebelum deadline pembayaran. Dan lagi-lagi, wajah pucat pasi itu berjalan kearahku, dengan senyuman yang sama seperti kemarin. Aku, berhenti sejenak, menikmati senyuman itu dan jantungku, kali ini memompa dengan sangat cepat.

Setiap pagi.. dia selalu muncul berjalan melewati tempat kerjaku, selalu tersenyum. Hampir setiap hari dia seperti itu, dan ini hari ke tujuh. Aku penasaran, siapa dia sosok berwajah pucat pasi dengan senyuman itu. Dia selalu muncul dari balik dinding pemisah ruanganku dengan ruangan didepanku.

Ingin rasanya bertanya ke salah satu tim aku, tapi karena takut menganggu, mereka terlihat sangat sibuk sekali. Pada akhirnya aku mencari tahu sendiri, berjalan ke arah dia selalu muncul, ruangan didepanku. Pelan-pelan aku perhatikan satu persatu setiap meja diruangan itu. Sosok yang sering ku lihat setiap pagi tak ada disana.

===

Pagi ini..

Sesering mungkin aku menatap kearah ruangan dimana wajah pucat pasi itu selalu muncul, namun sia-sia, dia tak terlihat lagi.

Tepat pukul sembilan, seharusnya dia sudah berjalan kearahku dengan senyuman itu, tapi.. lagi, aku tak melihatnya. Kemana dia?.

Lalu untuk yang kedua kalinya, kupastikan lagi untuk melihatnya, semua meja terisi tak ada satupun yang kosong. Berarti..

Dan pagi berikutnya aku tak pernah lagi melihat wajah pucat pasi dengan senyuman itu berjalan ke arahku, tak ada lagi yang aku tunggu di setiap jam sembilan pagi.

===

@kimidha2528

Komentar

Post Populer

Review Novel Yang Tercinta

Review Novel Pudar

Nonton Film, Antara Hobby dan Kebahagiaan.